Showing posts with label akidah. Show all posts
Showing posts with label akidah. Show all posts

Monday, September 5, 2016

Tingkatan Iman


Iman merupakan kepercayaan kepada allah dan rosul-Nya. Ketika seorang muslim menyatakan beriman berarti dia telah menyatakan akan mencintai rosul dan allah swt dalam setiap langkah dalam hidupnya.

Jika saja saat ini, nabi muhammad saw masih hidup, kemungkinan mudah untuk mengukur keimanan seseorang. Banyak sahabat yang gugur di medan perang dalam menegakkan agama allah swt di muka bumi di kala itu. Lalu, bagaimana dengan kita sekarang, yang tidak pernah bertemu dengan Rosul dan allah swt.

Salah satu ujian yang diberikan Tuhan allah swt salah satunya adalah ujian tentang keimanan seseorang. Ketika seseorang, terutama pada jaman sekarang, menyatakan beriman, maka, harus ditunjukkan dengan bukti nyata. Iman tidak bisa hanya di lisan saja. Karena iman adalah bentuk tindakan dari suatu yang dipercayai. Misalnya, iman kepada allah swt dan rosul-Nya, mewajibkan kita untuk sholat, maka kita sholat. Diwajibkan untuk puasa romadhon, maka otomatis kewajiban itu harus dilakukan. Jika tidak, maka dikatakan imannya menurun.

Itulah salah satu parameter iman seseorang dalam hidup. Apalagi di negara indonesia, yang mempunyai masyarakat majemuk. Tidak semua orang bisa diwajibkan mengikut agama islam sebagai landasan imannya. Kewajiban melakukan sesuatu yang merupakan perintah dari keimanan, tidak bisa serta merta dipaksakan.

Tingkatan Iman 

Iman dalam ukuran tingkat keimanan dibagi menjadi beberapa tingkat berikut :

1. Iman yang terus naik.

Iman ini dimiliki oleh para nabi dan rosul. Semua nabi dan rosul, mempunyai tingkat keimanan yang terus naik dari hari ke hari. Karena, mereka adalah golongan orang yang diberi hidayah langsung oleh allah swt, berupa firman dan perintah dari-Nya. Hal inilah yang membuat iman mereka menjadi terus bertambah setiap saat. Dan belum pernah ada seorang nabi dan rosul pun yang dipecat dari tugas nabi dan rosul. Nabi dan Rosul pun tidak pernah ada yang mengundurkan diri dari beratnya tugas kenabian dan kerosulan.

Hal ini karena nabi dan rosul dijaga keimanannya. Tidak ada yang bisa menjaga tingkat keimanan seseorang kecuali allah swt. Dan itu adalah hak allah swt. Dan beruntunglah seandainya kita termasuk golongan ini.

2. Iman yang tidak naik dan tidak turun atau stagnan (tetap)

Iman seperti ini dimiliki oleh para malaikat. Malaikat adalah makhluk allah swt yang diciptakan dari cahaya. Mereka tidak memiliki nafsu dan tidak pernah menolak perintah allah swt. Amalan mereka hanya satu saja dari sejak diciptakan. Misalnya, ada golongan malaikat yang tugasnya sujud, maka dia akan sujud terus sampai hari kiamat. Ada malaikat yang tugasnya mengatur tentang hujan, maka tugasnya hanya itu saja sampai hari kiamat. Dan amalan yang tetap itu, menjadikan mereka tidak berubah tingkat keimanannya. Tetap dan tidak berubah sampai hari kiamat.

3. Iman yang kadang naik dan kadang turun

Iman seorang muslim terkadang naik dan terkadang turun. Jika sedang naik, seorang muslim akan senang melakukan ibadah atau kegiatan yang bernilai ibadah. Misalnya, jika sedang imannya naik, rajin pergi ke masjid, sedekah, dan lain sebagainya. Jika sedang turun, sholatnya kadang di akhir waktu dan sedekahnya sedikit atau malah tidak sedekah. Keimanan ini juga yang membuat perhitungan amal menjadi bervariasi dari satu orang muslim dan muslim lainnya. Tidak ada seorang muslim yang nilai catatan imannya sama, satu dengan muslim lainnya.

Didalam al quran telah diberitakan bahwa, jika seorang muslim taat kepada allah swt dan rosul-Nya, maka dia akan mempunyai nilai iman lebih tinggi dari malaikat. Namun sebaliknya, jika mempunyai keimanan yang menurun, atau malah keimanannya tidak terlihat sama sekali, bisa membuat dirinya tidak mempunyai nilai lebih rendah dari binatang ternak. Maka syukurilah semua keimanan yang telah kita miliki selama ini. Karena anugerah allah swt ini tentang iman ini tidak bisa dipaksakan antara sesama manusia. Hanya allah lah yang dapat memberikan bantuan sehingga seseorang mempunyai keimanan yang naik dan terus bertambah.

Konsekuensi Melakukan Ibadah


Para nabi dan rosul yang menjadi utusan allah swt adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah dan juga memberi dakwah kepada manusia untuk selalu berada di jalan allah dan rosul-Nya. Untuk selalu beribadah dan menyembah kepada allah. Dakwah nabi saw berlangsung di mekah selama 13 tahun. Beliau menanamkan akidah yang benar, lurus dan bersih ke dalam jiwa para sahabat. Beliau selalu berusaha mengajak manusia untuk selalu beribadah dan menyembah kepada allah swt. Hal dilakukan terus menerus semenjak beliau diangkat menjadi Rosul-Nya.
Nabi muhammad saw kemudian membangun masyarakat yang diliputi keimanan kepada allah sehingga tertutuplah pintu kejahiliyahan kemudian memulai kehidupan imani yang penuh dengan tauhid. Mereka adalah sekelompok orang yang berimann kepada Nabi dengan sebenarnya sehingga menjadi qa’idah shalabah (kelompok yang solid) dalam berdakwah. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya akidah. Berikut adalah buah dari adanya kekuatan dan ketahanan akidah dalam suatu masyarakat :
  1. Munculnya generasi qurani dan rabbani yang berhak memperoleh gelar sebagai generasi paling mulia dan paling besar pahalanya daripada yang lain. Meskipun mereka telah didahului oleh generasi yang terdahulu yang membenarkan dan menolong nabi mereka. Nabi bersabda : “Kita adalah (generasi) terkahir (namun) terdahulu (HR Bukhari 238 dan Muslim 855). Maksudnya adalah generasi yang berada di akhir zaman, namun terdepan kedudukannya di sisi allah. Jika kita ingin meninggikan kualitas agama maka kita harus mencontoh generasi tersebut dalam hal keimanan, perilaku, budipekerti dan komitmen, ketundukan kepada allah, serta kesetiannya kepada rosulullah.
  2. Akidah adalah fondasi. seperti fondasi bangunan. Bangunan yang tidak berfondasi maka tidak akan berdiri kokoh.
  3. Semua cabang agama akan berdiri dengan tegaknya karena pohon yang rantingnya menjulang ke langit sejalan dengan akarnya yang menghunjam ke dalam bumi
  4. Agama yang menyebar, kebaikan membumi, keadilan dan kesejahteraan terpenuhi pada seluruh bagian yang terjamah Islam. Tenda islam akan membentang di seluruh penjuru negeri
  5. Dengan kokohnya akidah dan ijin allah, musuh allah akan kalah. Inilah buah yang takkan didapat kecuali oleh sedikit orang yang kekuatan iman dan ketangguhan akidah mereka allah ketahui, kebenaran mereka dalam berserah diri dan kembali kepada allah.
  6. Keberkahan akan turun dari langit. Allah akan kayakan manusia setelah kefakirannya. Allah berfirman, “Dan bahwasanya : jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu, benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rejeki yang banyak)”(Al jin 16). “Barang siapa yang bertakwa kepada allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rejeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”(Ath-Thalaq 2-3)

Sebaliknya, di bawah ini adalah kondisi umat karena selalu dangkal akidah mereka :
  1. Bercampurnya berbagai kecenderungan sehingga  dasar syariat ternodai, seperti bercampur dengan ilmu filsafat, dan semisalnya sehingga pemahaman akidah menjadi tercampur oleh ilmu-ilmu tersebut
  2. Umat bisa menjadi hancur dan musnah.
  3. Menurunkan pemahaman agama, terlebih tentang perkara-perkara ibadah. Umat terpisah dari para pendahulunya yang mulia dan menjadi enggan untuk menjadi umat yang berjihad di jalan allah.
  4. Umat menjadi cinta dunia, benci berkorban untuk agama, dan takut berada di jalan yang benar (Agama).
  5. Mengekor pada negeri-negeri yang tidak mempunyai syariat islam yang benar dan mencontohnya tanpa membuat filter yang sesuai dengan ajaran agama
  6. Hilangnya keberkahan. Dengan hilangnya keberkahan dari dunia ini, maka banyak manusia menjadi cenderung untuk selalu kurang akan dunia dan berusaha mencarinya walau telah mempunyai segala yang ada.
Demikian akidah telah menjadi pondasi dasar beragama dan beribadah dan juga menjadi pondasi dalam kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Setiap Akidah yang benar dilaksanakan, maka manusia tersebut akan selalu terlimpah rahmat dari allah dan jika jauh dari akidah yang benar, maka allah akan memberi peringatan yang dapat menjadikan manusia untuk kembali kepada-Nya dan jika masih berpaling, maka allah akan memberi keputusan yang lebih daripada peringatan.

Pengertian Dan Urgensi Akidah



Islam merupakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw yang merupakan utusan allah swt. Allah swt memberikan wahyu pertama kali kepada nabi muhammad saw di gua hiro dan di tempat itu pula langsung dilakukan pengangkatan dari seorang bernama muhammad menjadi seorang rosul utusan allah swt. Gua hiro adalah tempat dimana beliau selalu merenung tentang kehidupan dan kondisi masyarakat saat itu. Ketika menjadi nabi, beliau tidak bisa membaca dan juga menulis, sehingga semua susunan kata-kata dan tulisan yang ada adalah mutlak dari Allah swt. Bahkan barangsiapa yang meragukannya, dipersilakan untuk membuat yang serupa dengan al quran walau dengan bantuan seluruh makhluk seluruh alam semesta.

PENGERTIAN AKIDAH

Akidah merupakan perihal dasar dalam islam. Setiap muslim wajib untuk mengetahuinya, meyakininya dengan hati dan membenarkannya dengan lisan dan perbuatan.
Menurut bahasa, akidah adalah keyakinan yang tiada keraguan di dalamnya bagi orang yang meyakininya, baik keyakinan itu benar maupun salah. Kata aqidah dari al ‘aqdu yang bermakna keyakinan dan ikatan yang kuat.
Menurut istilah, akidah ialah ikatan hati yang kokoh untuk beriman kepada allah swt berikut konsekuensinya, yaitu wajib untuk taat, beriman kepada para malaikat, kitab-kitab, para rosul, hari akhir, dan takdirNya yang baik dan buruk. Selain itu, juga beriman pada berbagai perkara gaib, perkara yang pasti, dan apa yang disampaikan nabi muhammad saw secara sahih dari berbagai sumber.

URGENSI AKIDAH

Akidah yang benar ialah dasar dan asas agama islam. Hal itu bisa diketahui dengan dalil-dalil syar’i dari al quran dan sunnah. Segala amal dan perkataan hanya akan sah dan diterima jika didasari dengan akidah yang benar. Jika akidahnya batil, segala perkara yang bercabang darinya pun akan batil. Apa pun yang dibangun di atas kebatilan maka batil pula hasilnya.
Allah berfirman :
Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak mau menerima hukum-hukum islam) maka terhapuslah amalannya dan dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang merugi (Al-maidah : 5)
Dan sesungguhnya  telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, jika kamu menyekutukan (allah), niscaya akan terhapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi (Az-Zumar : 65)